Plasenta adalah organ penting selama kehamilan yang bertugas menyediakan nutrisi dan oksigen dari ibu ke janin. Namun, setelah bayi lahir, plasenta harus keluar juga sebagai bagian dari proses melahirkan. Salah satu komplikasi yang dapat terjadi adalah plasenta lengket di rahim, atau dalam istilah medis dikenal sebagai plasenta akreta. Kondisi ini perlu dikenali sejak dini agar bisa mendapatkan penanganan yang tepat dan menghindari komplikasi serius.
Apa Itu Plasenta Lengket (Plasenta Akreta)?
Plasenta lengket atau plasenta akreta adalah kondisi ketika plasenta menempel terlalu dalam dan erat pada dinding rahim. Biasanya, plasenta akan lepas secara alami setelah bayi lahir, tapi pada kondisi ini, plasenta sulit atau bahkan tidak bisa lepas sendiri. Ada tiga jenis plasenta akreta berdasarkan kedalaman penetrasi plasenta ke dinding rahim:
- Plasenta Akreta: Plasenta menempel terlalu dalam pada lapisan permukaan rahim.
- Plasenta Inkreta: Plasenta menembus lebih dalam ke otot rahim.
- Plasenta Perkreta: Plasenta menembus seluruh dinding rahim bahkan bisa menembus organ sekitar seperti kandung kemih.
Kondisi ini jarang terjadi, tapi berisiko tinggi dan biasanya membutuhkan penanganan darurat saat proses melahirkan.
ciri-ciri plasenta lengket di rahim
Mengenali ciri-ciri plasenta lengket di rahim penting agar ibu hamil bisa mendapatkan bantuan medis tepat waktu. Berikut adalah beberapa tanda yang bisa menjadi petunjuk adanya plasenta lengket: Berita bola Indonesia
1. Plasenta Tidak Keluar Setelah Melahirkan
Plasenta biasanya akan keluar dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir. Jika plasenta tidak keluar dalam rentang waktu itu, atau hanya sebagian yang keluar, maka bisa jadi ada plasenta yang melekat terlalu kuat di rahim.
2. Pendarahan Berat Setelah Melahirkan
Pendarahan yang berlebihan setelah proses persalinan (postpartum hemorrhage) bisa menandakan plasenta lengket. Hal ini terjadi karena plasenta yang masih menempel mencegah rahim berkontraksi dengan baik, sehingga pembuluh darah di rahim terus berdarah.
3. Nyeri Perut yang Tidak Normal
Beberapa ibu mungkin merasa nyeri perut yang cukup intens setelah melahirkan akibat usaha tubuh untuk mengeluarkan plasenta yang sulit lepas tersebut.
4. Ukuran Rahim Tidak Mengecil Setelah Persalinan
Biasanya setelah plasenta keluar, rahim akan mengecil dan mengeras. Jika rahim tetap besar dan lembek, bisa jadi plasenta masih tertinggal atau melekat erat.
5. Hasil Pemeriksaan USG
Sebelum melahirkan, dokter bisa mendeteksi tanda plasenta lengket lewat pemeriksaan USG, apalagi jika ibu memiliki faktor risiko tertentu. Hasil USG akan menunjukkan plasenta yang menempel terlalu dalam di dinding rahim.
Faktor Risiko Plasenta Lengket
Meski plasenta lengket dapat terjadi pada siapa saja, ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini, antara lain:
- Riwayat operasi rahim sebelumnya, seperti sesar atau operasi pengangkatan miom.
- Plasenta previa, yaitu plasenta yang menutupi sebagian atau seluruh mulut rahim.
- Bayi kembar atau kehamilan multipel.
- Usia ibu hamil yang lebih tua, terutama di atas 35 tahun.
- Riwayat keguguran dengan tindakan kuretase berulang.
Bagaimana Penanganan Plasenta Lengket?
Penanganan plasenta lengket harus dilakukan dengan hati-hati dan di bawah pengawasan dokter spesialis kandungan. Berikut beberapa langkah yang biasanya dilakukan:
1. Persiapan Persalinan dengan Tim Medis Berpengalaman
Jika plasenta lengket sudah diketahui sejak kehamilan, persalinan harus direncanakan di rumah sakit dengan fasilitas lengkap. Tim medis harus siap menangani komplikasi seperti pendarahan berat.
2. Operasi Sesar
Biasanya ibu dengan plasenta lengket akan disarankan menjalani operasi sesar agar plasenta dan bayi bisa dikeluarkan tanpa membahayakan ibu. Proses keluarnya plasenta bisa menjadi lebih sulit dan membutuhkan tindakan khusus.
3. Histerektomi (Pengangkatan Rahim)
Jika plasenta sangat menempel dan menyebabkan perdarahan hebat yang tidak bisa dikontrol, pengangkatan rahim mungkin diperlukan untuk menyelamatkan nyawa ibu. Ini biasanya menjadi pilihan terakhir.
4. Penggunaan Obat-obatan
Dokter mungkin memberikan obat untuk membantu kontraksi rahim agar pembuluh darah bisa mengerut dan mengurangi perdarahan.
Cara Mencegah Plasenta Lengket
Meski tidak semua kasus bisa dicegah, ada beberapa langkah yang dapat membantu mengurangi risiko plasenta lengket:
- Hindari melakukan operasi sesar atau tindakan invasif pada rahim tanpa alasan kuat.
- Rajin kontrol kehamilan untuk memantau posisi plasenta dan kondisi rahim.
- Ikuti anjuran dokter selama kehamilan dan persalinan.
- Jaga kesehatan rahim agar tetap kuat dan tidak mengalami luka berulang.
Kesimpulan
Plasenta lengket di rahim merupakan kondisi yang serius dan perlu mendapatkan perhatian khusus. Mengenali ciri-ciri seperti plasenta yang tidak keluar setelah persalinan, pendarahan berlebihan, dan nyeri perut adalah langkah awal untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat. Jangan ragu konsultasi ke dokter jika ada kekhawatiran selama kehamilan, agar proses persalinan bisa berjalan aman tanpa risiko komplikasi berat.
FAQ Seputar Plasenta Lengket di Rahim
Apa penyebab plasenta lengket di rahim?
Plasenta lengket disebabkan oleh pertumbuhan plasenta yang menempel terlalu dalam di dinding rahim, biasanya karena adanya luka atau bekas operasi di rahim sebelumnya yang membuat lapisan rahim tidak normal.
Apakah plasenta lengket bisa dicegah?
Mencegah plasenta lengket tidak selalu mudah, tapi menghindari operasi rahim yang tidak perlu dan rutin kontrol kehamilan dapat membantu mengurangi risiko terjadinya kondisi ini.
Bagaimana cara dokter mendeteksi plasenta lengket sebelum melahirkan?
Dokter biasanya menggunakan USG dan pemeriksaan MRI untuk mendeteksi apakah plasenta menempel terlalu dalam di rahim saat kehamilan masih berlangsung.
Apakah plasenta lengket berbahaya bagi ibu?
Ya, plasenta lengket dapat menyebabkan perdarahan hebat setelah melahirkan yang berpotensi mengancam nyawa ibu jika tidak segera ditangani dengan baik.
Apakah plasenta lengket memengaruhi proses persalinan normal?
Biasanya plasenta lengket membuat proses persalinan normal sulit dilakukan, sehingga seringkali ibu disarankan untuk menjalani persalinan dengan operasi sesar agar risiko komplikasi bisa dikurangi.